Selular.ID – Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin masif di dunia, termasuk di Indonesia.
Tetapi perlu diingat, penggunaan AI ini tentu saja harus diikuti dengan kecepatan internet yang cepat misalnya jaringan 5G.
Kecepatan internet di Indonesia sendiri, baik internet mobile maupun fixed broadband, masih berada di peringkat bawah secara global.
Berdasarkan Speedtest Global Index periode Mei 2026, kecepatan internet mobile Indonesia hanya berada di angka 62,54 Mbps dan menempati peringkat 74 dari 101 negara.
Hal lebih buruk terjadi di sektor fixed broadband, di mana kecepatan rata-rata Indonesia tercatat 47,10 Mbps dan berada di urutan ke-117 dari 149 negara, ironisnya negara kita tertinggal dari Kamboja dan Laos.
Baca juga:
- Jumlah Pengguna 5G Indonesia Diprediksi Capai 213 Juta
- Lebih 500 Orang Terdaftar di Lintasarta OpenClaw Meetup, Jaring AI Agents
Adrian Lesmono, yang menjabat sebagai Country Leader dan Consumer Business Lead NVIDIA Indonesia mengakui jika kecepatan internet akan mempengaruhi penggunaan AI.
Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda
Dia menjelaskan Indonesia membutuhkan kecepatan internet yang bagus seperti 5G sehingga dapat memanfaatkan AI dengan baik.
“Kita ibaratkan internet 5G ini adalah kendaraan atau mobilnya, dan AI ini adalah penumpangnya. Jika semakin mobilnya semakin cepat maka AI juga semakin cepat informasi yang kita dapatkan,” jelasnya saat di acara Selular Award, (8/6/2026).
Selain itu, tambah Adrian, AI juga bisa digunakan untuk menjaga kesetabilan kecepatan internet 5G baik untuk internet mobile maupun fixed broadband.
“Jadi 5G dan AI ini satu kesatuan, jika yang satunya baik maka yang lainnya ikut baik,” sambung Adrian.
Pengguna 5G Indonesia Diprediksi Melesat
Sementara itu, Ericsson Mobility Report edisi Juni 2026 baru saja dirilis, mengungkap kondisi konektivitas seluler di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Menurut laporan ini, penetrasi jaringan 5G akan meledak pada tahun 2031.
Stanislaus Bawono, Head of Network Solutions Ericsson South East Asia mengatakan hingga Q1 2026 ada 3,1 miliar pengguna 5G di seluruh dunia, dan diproyeksikan tumbuh menjadi 6,4 miliar pada tahun 2031.
“Karena sekarang sudah ada hampir majority dari operator-operator seluruh dunia itu, sudah ada 390 aktif operator di dunia yang sedang launching 5G, jadi yang kita lihat growing terus,” kata Stanis dalam media briefing di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Baca juga:
- Ericsson Indonesia Bakal Bantu Operator Seluler Dapatkan Ladang Cuan Baru dengan 5G
- Nokia dan Indosat Perluas 5G Indonesia dengan Integrasi AI
Dari miliaran pengguna global, Ericsson menemukan adopsi 5G di Asia Tenggara dan Oseania pada tahun 2025 sebesar 14% dan koneksi 4G masih mendominasi dengan 76%.
Pada tahun 2031, adopsi 5G diramal tumbuh hingga 56%, yang dipimpin oleh Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Khusus di Indonesia, Ericsson melaporkan ada 22 juta pengguna 5G pada tahun 2025, yang menyumbangkan 7% dari total pengguna.
Angka ini diprediksi tumbuh menjadi 213 juta pengguna pada tahun 2031, atau 59% dari seluruh pengguna.
“Sekali lagi, 5G menjadi critical infrastructure, infrastruktur yang vital untuk pertumbuhan digital economy,” kata Ronni Nurmal, Head of Government & Industry Relation Ericsson Indonesia dalam kesempatan yang sama.
“Dan kita lihat, ini akan membantu mencapai target Indonesia Digital 2045,” sambungnya.
Laporan Ericsson juga menyoroti ketersediaan frekuensi mid-band seperti 2,6 GHz dan 3,5 GHz yang penting untuk memperluas cakupan 5G.
Mereka berharap lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang sudah dibuka oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) akan mempercepat penetrasi 5G di Indonesia.
“Mid band ini sebenarnya yang sangat penting untuk menggunakan 5G secara, potensinya secara full,” jelas Stanis.
“Kalau ini dikombinasi dengan full coverage, dan kemudian ditambah dengan 5G yang kita pakai sekarang, misalnya di 1.800, 2.100, atau lebih 2.300 yang kita sebut low-band itu makin membuat mobility sama full coverage menjadi lebih baik,” imbuhnya.
Walaupun adopsi 5G global saat ini belum merata, Ericsson sudah menerawang evolusi jaringan berikutnya yaitu 6G.
Spesifikasi awal 6G diperkirakan akan diselesaikan pada akhir tahun 2028 atau awal tahun 2029, dan peluncuran layanan 6G komersial pertama akan dilakukan pada tahun 2030.
“Prediksinya ketika launching di 2031, itu market utama yang biasanya duluan itu adalah China, Jepang, Korea Selatan, kemudian negara-negara Teluk,” ucap Stanis.


















































