Bitcoin Gagal Bertahan di 80.000 Dolar AS, Waspadai Dua Hal yang Jadi Penentu

8 hours ago 8

Selular.ID – Bitcoin kembali bergerak di kisaran 78.000 dolar AS setelah gagal bertahan di atas level psikologis 80.000 dolar AS.

Arah selanjutnya dinilai akan banyak ditentukan arus dana ETF dan kebijakan moneter Amerika Serikat.

Bitcoin sebelumnya naik sekitar 26 persen dari 62.700 dolar AS hingga menyentuh 81.235 dolar AS.

Namun, aset kripto terbesar itu kemudian terkoreksi dan kembali bergerak di bawah 80.000 dolar AS.

Baca juga:

CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis menilai koreksi tersebut belum mengubah prospek Bitcoin secara keseluruhan.

Namun, pasar kini harus membuktikan apakah permintaan investor masih cukup kuat menopang harga.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

“Reli Bitcoin sepanjang Agustus menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset kripto masih sangat kuat,” kata Yudhono dikutip dari Antara, Senin (7/9/2026).

“Namun, setelah gagal bertahan di atas 80.000 dolar AS, pasar sekarang masuk ke fase pembuktian,” sambungnya.

Menurut Yudhono, permintaan di pasar spot dan arus dana investor institusional menjadi indikator penting setelah reli tersebut.

ETF Bitcoin dan Ethereum di AS mencatat arus masuk bersih sekitar 2,71 miliar dolar AS pada pekan yang berakhir 24 Agustus. Bitcoin menyumbang sekitar 1,92 miliar dolar AS.

Namun, arus dana mulai melemah. Data Farside Investors menunjukkan ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar bersih sekitar 201,9 juta dolar AS pada 28 Agustus setelah sebelumnya membukukan arus masuk selama beberapa hari.

Inflasi Masih di Atas Target

Yudhono mengatakan kembalinya arus dana ETF ketika Bitcoin berada di kisaran 77.000–80.000 dolar AS dapat menjadi sinyal investor besar masih melihat koreksi sebagai kesempatan untuk masuk.

Selain ETF, pasar juga akan mencermati arah kebijakan The Fed.

Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pada 28 Agustus dipandang bernada hawkish setelah ia menegaskan inflasi AS masih berada di atas target 2 persen.

Data tenaga kerja dan inflasi AS juga menjadi perhatian menjelang pertemuan Federal Open Market Committee atau FOMC pada 15–16 September 2026.

Yudhono memperkirakan volatilitas Bitcoin masih tinggi sepanjang September karena pasar akan semakin sensitif terhadap data ekonomi AS.

“Jika data menunjukkan ekonomi mulai mendingin tanpa inflasi kembali melonjak, ruang bagi aset berisiko untuk kembali menguat akan terbuka,” katanya.

Sebaliknya, inflasi yang tetap tinggi dapat memperpanjang tekanan terhadap Bitcoin karena mempersempit peluang pelonggaran kebijakan moneter AS.

Dalam jangka pendek, area 80.000–81.000 dolar AS menjadi level penting.

Jika Bitcoin mampu menembus dan bertahan di atas zona tersebut, momentum penguatan dinilai dapat kembali terbentuk.

Namun, jika gagal merebut kembali 80.000 dolar AS, Bitcoin berpotensi melanjutkan konsolidasi sambil menunggu katalis berikutnya.

“Pertanyaannya bukan sekadar apakah Bitcoin bisa kembali ke 80.000 dolar AS. Yang lebih penting adalah apakah 80.000 dolar AS nantinya dapat berubah dari resistance menjadi support,” kata Yudhono.

Dalam perdagangan, resistance adalah area harga yang cenderung menahan kenaikan, sedangkan support merupakan area yang cenderung menahan penurunan.

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |