Baterai Silicon-Carbon: Apa Itu, Kelebihan, dan Kenapa Mulai Dipakai di HP Terbaru?

19 hours ago 13

Techdaily.id – Smartphone modern khususnya Android mengalami revolusi dalam urusan kemampuan bertahan dalam kondisi on atau standby. Teknologi baterai silicon-carbon memungkinkan perangkat bertahan menyala lebih lama, jauh daripada baterai konvensional (Litihium-ion atau Li-ion).

Tak hanya itu, baterai silicon-carbon juga memungkinkan perangkat dalam genggaman juga tetap tipis. Untuk Anda yang besar di era 90-an sampai 2000-an besar kemungkinan ingat bila ukuran baterai dulu mirip dengan batu bata yang membuat smartphone berat saat dibawa-bawa bepergian.

Teknologi baterai konvensional Li-ion sudah semakin menua, bagaimana tidak jenis baterai ini sudah berumur tiga puluh tahun. Sulit untuk membayangkan bila dengan kebutuhan smartphone saat ini masih menggunakan baterai yang teknologinya sudah sampai tiga dekade. Baterai silicon-carbon menjadi jawaban akan kebutuhan baterai di smartphone kekinian. 

Jadi Ada Apa di Dalam Silicon Carbon?

Baterai konvensional menggunakan material grafit murni yang memiliki batasan kapasitas maksimum dalam menyimpan ion lithium secara efisien. Kelemahannya adalah ketidakmampuan dalam memasukkan daya lebih banyak ke dalam grafit.

Puluhan tahun berhadapan dengan masalah klasik ini, solusinya hadir dengan baterai silicon-carbon. Konsepnya adalah kombinasi silikon berkepadatan energi tinggi dengan elemen karbon yang stabil. Penggunaan material silikon potensial 10 kali lebih padat daripada material grafit. Dengan konsep seperti ini baterai silicon-carbon jelas bisa menyimpan daya yang lebih besar.

Para pakar teknologi baterai menjadikan struktur molekul yang melekat pada baterai silicon-carbon secara konsisten sebagai teknologi masa depan yang potensial. Tantangannya adalah bagaimana memasyarakatkan penggunaan baterai silicon-carbon di berbagai perangkat terkini dengan meminimalisir risiko penggunaannya. Mulai dari panas, sampai mitigasi risiko meledak setelah berulang kali pengisian ulang.

Smartphone yang Mulai Memakai Baterai Silicon-Carbon

Sasaran dari penggunaan baterai silicon-carbon ini adalah smartphone flagship modern. Kalau dulunya smartphone rata-rata menggunakan baterai 4.000 mAh kini bisa melonjak drastis hingga melampaui 5.500 mAh atau bahkan lebih dari  6.000 mAh.

Beberapa smartphone yang sudah menggunakan baterai silicon-carbon adalah Vivo X200 dan OnePlus 13. Keduanya hadir dengan kapasitas 6.000 mAh. Sementara untuk kapasitas baterai silicon-carbon yang lebih besar ada Realme GT 7 Pro yang kapsitasnya 6.5000 mAh dan Realme Neo7 yang kapasitasnya 7.000 mAH.

Kabar terbaru, smartphone lipat Samsung terbaru Galaxy Fold 8 Ultra juga telah mengimplementasikan baterai silicon-carbon di dalamnya. Penggunaan jenis baterai ini juga meningkatkan kapasitas baterainya ke 5.500 mAh.

Tantangan Ekspansi dan Stabilitas Baterai silicon-Carbon 

Penggunaan material silikon pada baterai silicon-carbon ternyata juga sempat mengalami kendala di masa lalu. Salah satu yang paling sering terjadi adalah pemuaian volume hingga lebih dari 300 persen saat pengisian daya berlangsung. Proses pemuaian ekstrem ini lama-kelamaan dapat merusak komponen internal dan memperpendek usia pakai baterai silicon-carbon secara drastis.

Tapi inovasi teknologi terus bergulir. Baterai silicon-carbon terus berevolusi dengan adanya matriks karbon sebagai peredam yang lebih stabil untuk mengunci pergerakan silikon agar tetap terkendali. Dengan dukungan rekayasa material berbasis riset mendalam, peningkatan kapasitas daya dalam baterai silicon-carbon berhasil menjadi solusi dengan meminimalisir faktor keamanan pengguna.

Namun tetap saja, beberapa vendor seperti Samsung baru memutuskan pemakaian baterai silicon-carbon di perangkat-perangkat terbarunya di 2026. Alasan keamanan membuat beberapa vendor baru yakin belakangan dari penggunaan baterai silicon-carbon. 

Baca Juga: Mengenal Kamera Periscope Telephoto, Teknologi Zoom Jarak Jauh di Smartphone

Masih Terbatas di Smartphone Kelas Atas

Sebagai teknologi baru, rata-rata pabrikan baterai masih mempersiapkan produksi Li-Ion. Di titik saat ini memang baterai silicon-carbon masuk dalam teknologi peralihan.

Tantangannya tentu saja menjaga biaya produksi perangkat. Bila tidak, di tengah naiknya harga RAM dan storage, harga jual smartphone akan semakin menggila. Samsung baru memulainya di 2026, harga perangkatnya puluhan juta. Sementara jagoan dari Cupertino alias iPhone masih belum muncul dengan rencana mengimplementasikan baterai silicon-carbon di perangkat-perangkat terbarunya. Setidaknya sampai di iPhone 17 Pro Max.

Sementara perangkat Android besutan Google, Pixel series terbaru juga masih belum terlihat tanda-tanda akan menggunakan baterai silicon-carbon. Dengan kata lain, mayoritas implementasinya masih pada smartphone China. (*)

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |