Selular.ID – Microsoft dilaporkan tengah menyiapkan gelombang baru pemutusan hubungan kerja (PHK) yang diperkirakan berdampak pada ribuan karyawan di berbagai divisi.
Langkah tersebut disebut akan memangkas kurang dari 2,5% dari total tenaga kerja global perusahaan sebagai bagian dari upaya pengendalian biaya di tengah peningkatan investasi pada infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Laporan mengenai rencana tersebut pertama kali diungkap Business Insider dengan mengutip sumber yang mengetahui pembahasan internal perusahaan.
Reuters kemudian melaporkan bahwa pengumuman PHK dapat dilakukan dalam waktu dekat, meski hingga kini Microsoft belum memberikan konfirmasi resmi maupun mengomentari laporan tersebut.
Jika terealisasi, pengurangan karyawan ini akan menyasar sejumlah unit bisnis, termasuk divisi penjualan (sales), konsultasi (consulting), serta bisnis gim Xbox.
Beberapa karyawan yang terdampak disebut berpeluang memperoleh penawaran untuk mengisi posisi lain di dalam perusahaan, bergantung pada kebutuhan organisasi dan kecocokan keahlian.
Berdasarkan laporan tahunan Microsoft, perusahaan memiliki sekitar 220.000 karyawan secara global.
Dengan skala tersebut, pemangkasan di bawah 2,5% tetap berarti ribuan posisi akan terdampak, meski jumlahnya lebih kecil dibandingkan restrukturisasi yang dilakukan pada 2025.
Langkah efisiensi ini berlangsung ketika Microsoft terus meningkatkan belanja modal untuk memperkuat ekosistem AI.
Perusahaan dalam beberapa kuartal terakhir mengalokasikan investasi dalam jumlah besar untuk pembangunan pusat data, infrastruktur komputasi awan, serta pengembangan layanan AI yang menjadi fondasi produk seperti Copilot dan layanan Azure AI.
Besarnya belanja AI tersebut menjadi perhatian investor karena mendorong kenaikan biaya operasional dalam jangka pendek.
Sejumlah analis menilai Microsoft, seperti perusahaan teknologi besar lainnya, kini berupaya menyeimbangkan kebutuhan investasi AI dengan efisiensi organisasi agar profitabilitas tetap terjaga.
Rencana PHK terbaru juga mengikuti serangkaian penyesuaian organisasi yang dilakukan Microsoft dalam beberapa tahun terakhir.
Pada awal 2023, perusahaan memangkas sekitar 10.000 posisi. Restrukturisasi berlanjut pada 2025 melalui beberapa gelombang PHK yang menyasar berbagai unit bisnis, termasuk organisasi Xbox setelah akuisisi Activision Blizzard dan penataan ulang sejumlah tim pengembangan produk.
Sebelum muncul laporan PHK terbaru, Microsoft juga telah menawarkan program pensiun sukarela kepada sebagian karyawan senior di Amerika Serikat.
Program tersebut dirancang untuk mengurangi jumlah tenaga kerja melalui mekanisme sukarela sebelum perusahaan mengambil langkah pengurangan karyawan yang lebih luas.
Menurut laporan Business Insider, sekitar sepertiga karyawan yang memenuhi syarat memilih mengikuti program tersebut.
Divisi Xbox menjadi salah satu organisasi yang disebut kembali terdampak restrukturisasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, Microsoft melakukan berbagai penyesuaian terhadap bisnis gimnya, mulai dari integrasi hasil akuisisi studio, penataan organisasi, hingga optimalisasi portofolio produk.
Restrukturisasi terbaru dilaporkan menjadi bagian dari upaya menyelaraskan struktur bisnis Xbox dengan strategi perusahaan secara keseluruhan.
Waktu pelaksanaan PHK juga dinilai selaras dengan pola historis Microsoft yang kerap melakukan perubahan organisasi pada awal tahun fiskal baru, yang dimulai setiap 1 Juli.
Periode tersebut biasanya dimanfaatkan perusahaan untuk menyusun kembali struktur organisasi, menetapkan prioritas investasi, dan mengalokasikan sumber daya ke area bisnis yang diproyeksikan memiliki pertumbuhan lebih tinggi.
Microsoft bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang melakukan penyesuaian tenaga kerja di tengah ekspansi AI.
Dalam dua tahun terakhir, sejumlah perusahaan teknologi global juga melakukan efisiensi sambil meningkatkan belanja untuk pusat data, akselerator AI, dan pengembangan model bahasa besar (large language models/LLM).
Kondisi tersebut mencerminkan perubahan strategi industri yang semakin memprioritaskan investasi pada infrastruktur AI dibandingkan ekspansi jumlah tenaga kerja.
Hingga artikel ini ditulis, Microsoft belum mengumumkan secara resmi jumlah pasti posisi yang akan dihapus maupun jadwal pelaksanaan restrukturisasi tersebut.
Perusahaan juga belum merinci negara atau organisasi mana saja yang akan terdampak apabila rencana tersebut benar-benar dijalankan.
Informasi lebih lanjut diperkirakan akan disampaikan setelah Microsoft menetapkan keputusan final terkait penyesuaian organisasinya.



















































