Komdigi Tekan Operator Seluler Untuk Bangun Jaringan 5G, Pengamat: Perlu Insentif

9 hours ago 8

Selular.ID – Di tengah tekanan beban regulatory charge yang melanda operator seluler, pemerintah ingin adanya percepatan transformasi digital, salah satunya pengembangan dan pemerataan jaringan 5G.

Tentu dengan beban iuran ini, akan menjadi semakin berat di saat operator seluler kembali dituntut untuk membangun infrastruktur 5G.

Ketua Pusat Studi Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia STEI ITB, Ian Josef Matheus Edward mengakui pemerintah harus memberikan insetif supaya proyek 5G ini dapat dijalankan operator seluler.

Selain itu, Ian juga mengatakan ada sejumlah solusi supaya tidak memberatkan operator seluler serta pembangunan jaringan 5G tetap dapat berjalan optimal.

Baca juga:

“Salah satu solusinya adalah up front fee (pembayaran sebagian) yang maksimum dua kali sehingga untuk dananya dapat digunakan Capex pembangunan 5G,” ujarnya kepada Selular, Jumat (26/6/2026).

Sebenarnya terkait kebijakan up front fee ini, sambung Ian, sudah dibuatkan pemerintah terkait regulasi pelaksanaanya, sehingga bisa langsung diterapkan.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

“Selain itu, juga ada solusi spectrum sharing yang tentu akan menekan biaya Opex (operator seluler),” sambungnya.

Pita 700 MHz dan 2,6 GHz Harus Segera Dimanfaatkan

Ian juga menyoroti pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang sudah lama kosong dan tidak digunakan, justru akan menjadi kerugian bagi negara.

Menurutnya lebih bijak jika pita frekuensi tersebut dimanfaatkan tetapi dengan memberikan kelonggaran bagi operator seluler untuk mengeluarkan dana investasi saat mengelolanya.

“Tentu 700 MHz dan 2,6 GHz yang sudah kosong tidak dilelang ada pemasukan negara yangg tidak terwujud dan yang paling besar adalah tidak termanfaatkan utk kemakmuran masyarakat,” ungkapnya.

Di sisi lain dengan adanya teknologi 5G dan AI yang bisa operator seluler manfaatkan, maka ada sejumlah efisiensi yang bisa dilakukan.

“Tentu ada efisiensi bisnis karena dengan 5G dan AI untuk data yang digunakan, analisis dan pengambilan keputusan akan lebih cepat dan murah,” jelasnya.

“Pengeluaran perusahaan akan menurun lebih besar dibandingkan investasi infrastruktur; serta ada bisnis baru seperti X as A Service (contoh GPU as A Service),” sambungnya.

Dampak ke Masyarakat

Ian juga menyoroti adanya pemanfaatan jaringan 5G hasil dari pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz serta teknologi kecerdasan buatan atau AI tentu memiliki dampak ke masyarakat.

Menurutnya, perlu sinergi dari semua elemen supaya jaringan 5G ini dirasakan setiap masyarakat di Indonesia, baik yang ada di perkotaan bahkan hingga daerah 3T.

Jika hal tersebut dapat teralisasi maka ada sejumlah dampak positif yang dapat dirasakan oleh masyarakat.

“Yang pertama tentu kesenjangan teknologi akan semakin mengecil. Lalu kedua, optimal dalam hal biaya dan waktu utk semua pelaku masyarakat,” tandasnya.

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |